Yogyakarta — Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Perhubungan DIY terus memperkuat langkah menuju kawasan rendah emisi (Low Emission Zone/LEZ) di Sumbu Filosofi Yogyakarta. Salah satu upaya nyata yang dilakukan adalah penghapusan bertahap becak motor (bentor) dan penggantian dengan becak kayuh berpenguat tenaga listrik yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai bagian dari transformasi tersebut, sebanyak 50 unit becak motor resmi dimusnahkan dalam acara Serah Terima Becak Listrik dan Penghapusan Becak Motor yang digelar di UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Yogyakarta, Rabu (3/6). Sebagai penggantinya, 50 pengemudi menerima becak listrik bantuan Program Bina Lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menyampaikan bahwa penghapusan becak motor bukan sekadar pergantian moda transportasi, melainkan bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan lingkungan di kawasan Sumbu Filosofi yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO.

“Penghapusan becak motor yang dilaksanakan pada hari ini bukan semata-mata penggantian alat transportasi, melainkan merupakan bagian dari langkah strategis dalam mengurangi tekanan lingkungan dan mendukung terwujudnya Low Emission Zone di wilayah Sumbu Filosofi Yogyakarta,” ujar Erni dalam sambutan yang mewakili Sekretaris Daerah DIY.
Menurutnya, kehadiran becak listrik menjadi bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi transportasi yang lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan tanpa menghilangkan identitas budaya Yogyakarta yang selama ini melekat pada moda becak. Becak listrik juga diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan penumpang, produktivitas pengemudi, serta mendukung pengurangan emisi karbon di kawasan wisata.

Pada kesempatan tersebut, Erni turut menyampaikan apresiasi kepada PT KAI (Persero) atas dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diwujudkan dalam bantuan 50 unit becak listrik kepada pengemudi becak di Yogyakarta. Ia berharap sinergi serupa dapat diikuti oleh berbagai pihak, termasuk BUMN, perbankan, dan sektor swasta lainnya untuk mempercepat transformasi becak motor menjadi becak listrik.
Kegiatan serah terima ini merupakan buah dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT KAI (Persero). Kepala Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta, Bambang Respationo, menerangkan bahwa total dana CSR yang digelontorkan untuk memproduksi 50 unit becak listrik pertama ini hampir menyentuh Rp1 miliar.

"Insya Allah CSR ini masih berlanjut. Namun, 50 unit pertama ini akan dievaluasi dulu karena ini produk baru. Kami berkomitmen untuk perbaikan dengan menggandeng mitra lain demi mendukung program ramah lingkungan ini ke depan," kata Bambang Respationo.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa kebijakan penghapusan becak motor harus tetap memperhatikan keberlangsungan mata pencaharian para pengemudi becak. Menurutnya, konsep transportasi ramah lingkungan harus berjalan seiring dengan keberpihakan kepada masyarakat.

“Jangan sampai kita menghilangkan becak, kemudian menghilangkan mata pencaharian bapak-bapak semuanya. Pro environment itu juga pro kepada manusia,” ungkap Hasto.
Untuk memastikan aspek legalitas, seluruh becak listrik yang diserahkan telah melalui proses registrasi resmi. Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, S.STP., M.Si., melaporkan bahwa setiap unit telah diterbitkan Surat Izin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB) dan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (TNKTB).
Sistem penyerahan menggunakan mekanisme hibah kepada koperasi yang telah berbadan hukum. Status kepemilikan becak tetap berada di bawah koperasi, sementara para pengemudi memiliki hak pakai.

Petrus Juli Hartono, Ketua Koperasi Jasa Becak Wisata Yogyakarta, menyebut anggotanya sangat antusias. "Kebijakan bebas emisi di Malioboro disikapi positif karena pemerintah memberikan solusi konkret agar teman-teman tetap bisa eksis mencari nafkah menggunakan becak listrik," ungkapnya.
Hal senada disampaikan Wasiyatno, salah seorang pengemudi yang telah 10 tahun menarik betor. "Perasaannya senang karena sudah ada gantinya dari PT KAI. Sudah ada yang baru dan bebas bensin, kenapa harus pakai yang lama," tuturnya.

Pemda DIY menargetkan kawasan Malioboro dan Sumbu Filosofi secara bertahap menjadi kawasan rendah emisi dengan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, jumlah becak listrik yang beroperasi di Yogyakarta telah mencapai lebih dari 200 unit dan akan terus ditambah melalui dukungan pemerintah maupun mitra pembangunan.
Transformasi becak listrik ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju Yogyakarta yang lebih hijau, bersih, nyaman, serta tetap mempertahankan karakter budaya yang menjadi identitas kota. Pemerintah Daerah DIY juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan sistem transportasi berkelanjutan di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta.


