Yogyakarta, 29 Agustus 2026 — Kepala Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Chrestina Erni Widyastuti, S.E., M.Si., menjadi salah satu pembicara dalam Diskusi Publik ITDP Indonesia pada The 12th Urban Social Forum (USF) 2026 yang mengangkat tema “Langkah dan Kayuh yang Membentuk Kota: Merancang Ulang Mobilitas DIY yang Inklusif dan Berkeadilan.”

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Kaca, SMA Kolese de Britto, Yogyakarta, Sabtu (29/8), mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, serta masyarakat untuk membahas tantangan dan peluang pembangunan sistem mobilitas di DIY.
Sebagai Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti menjadi salah satu narasumber yang membawa perspektif pemerintah dalam membahas bagaimana sistem transportasi dapat menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat DIY yang beragam.

Pembahasan dalam diskusi menyoroti berbagai tantangan transportasi, mulai dari kebutuhan mobilitas pelajar, mahasiswa, pekerja, wisatawan, hingga masyarakat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Selain itu, isu keterhubungan antara berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem transportasi yang saling terintegrasi.
Salah satu perhatian utama yang diangkat adalah persoalan first mile dan last mile, yaitu konektivitas perjalanan masyarakat dari rumah menuju titik layanan angkutan umum maupun dari titik pemberhentian menuju tujuan akhir. Persoalan ini menjadi penting agar masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang lebih praktis tanpa selalu bergantung pada kendaraan pribadi.

Diskusi juga menempatkan aspek inklusivitas sebagai bagian penting dalam perencanaan transportasi. Kelompok seperti perempuan, lansia, penyandang disabilitas, pekerja informal, serta masyarakat yang bergantung pada angkutan umum perlu mendapatkan perhatian dalam pembangunan sistem transportasi yang aman, mudah diakses, dan berkeadilan.
Kehadiran Chrestina dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif kebijakan pemerintah dengan pengalaman dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting untuk mendorong transformasi mobilitas DIY yang lebih terhubung dan inklusif.


