Accessibility Tools

Memperingati Harhubnas 2025, Dishub DIY Ajak Masyarakat Naik Moda Transportasi Tradisional di Malioboro

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Yogyakarta – Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar kampanye moda transportasi tradisional bertajuk “Sensasi Transportasi Tanpa Emisi Bersama Menjaga Warisan Dunia” dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2025 yang dirangkai dengan Sarasehan “Bersama Menjaga Warisan Dunia di kawasan Malioboro, Selasa (9/9).

Kegiatan ini diikuti jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) DIY dan Kota Yogyakarta, DPRD DIY, komunitas transportasi tradisional, pelaku usaha, hingga perwakilan perhotelan.

Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menjelaskan bahwa kampanye ini bertujuan mengurangi kemacetan sekaligus menekan polusi udara di kawasan Malioboro. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan moda transportasi ramah lingkungan. “Nah, saat ini di area Malioboro, kita berupaya untuk mengurangi polusi dan mencoba menciptakan pengurangan kemacetan. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan moda transportasi yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Dalam kampanye tersebut, tamu undangan diajak menaiki tradisional yang terdiri dari Dalam kampanye tersebut, tamu undangan diajak menaiki moda tradisional yang terdiri dari 20 andong, 25 becak (kayuh dan listrik), serta 25 sepeda ontel. ebagai ikon transportasi tradisional Yogyakarta dengan rute perjalanan dari DPRD DIY dan berakhir di kompleks Kepatihan. Selain menjaga identitas budaya, tentunya juga dapat mendukung penataan kawasan Malioboro agar lebih tertib, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Dukungan juga datang dari para pelaku transportasi tradisional. Ketua Koperasi Jasa Becak Kayuh, Paimin, mengaku keberadaan becak listrik sangat membantu pengemudi. “Kalau dulu harus mengayuh ke sana kemari, sekarang lebih ringan dan irit tenaga,” ujarnya.

“Transportasi lain terus berinovasi, tapi andong tetap menjadi identitas Jogja yang harus terus dijaga,” ujar Bapak Wahyu seorang kusir andong yang menekankan pentingnya melestarikan andong sebagai ikon khas Yogyakarta.

Dishub DIY berharap kegiatan kampanye ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, untuk beralih menggunakan moda transportasi rendah emisi sehingga kualitas udara di Yogyakarta semakin baik.

Acara dilanjutkan sarasehan di Pendapa Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta dengan peserta yang sama dengan di atas kecuali becak dan andong dipersilahkan kembali ke Jalan Malioboro.

Pj. Sekretaris Daerah DIY, Aria Nugrahadi, dalam sambutan yang dibacakan Asisten Sekretariat Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana, menegaskan bahwa momentum sarasehan ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajakan konkret bagi semua pihak untuk menjaga dan melestarikan transportasi tradisional seperti becak, andong, dan sepeda ontel.

“Transportasi tradisional tidak hanya menjadi sarana mobilitas, tetapi juga simbol kearifan lokal, daya tarik wisata, serta representasi transportasi ramah lingkungan yang mendukung upaya pengendalian polusi di Malioboro,” ungkapnya.

Dalam diskusi, Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, Aryanto Hendro Suprantoro, menekankan pentingnya menjaga kelestarian Sumbu Filosofi Yogyakarta yang pada 2023 diakui UNESCO sebagai warisan dunia. “Pengakuan UNESCO bukan sekadar simbol, tetapi menuntut komitmen kita menjaga lingkungan, budaya, serta tata ruang yang diwariskan sejak masa Pangeran Mangkubumi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menyoroti potensi pariwisata Malioboro sebagai destinasi eksklusif. Menurutnya, pengembangan pariwisata di kawasan ini harus beralih dari sekadar kuantitas wisatawan menuju kualitas pengalaman wisata.

“Kita perlu memastikan wisatawan betah tinggal lebih lama, menikmati atraksi khas seperti andong, becak listrik, maupun sepeda ontel, sehingga dampak ekonominya dirasakan masyarakat lokal,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiantoro, menyampaikan bahwa penataan kawasan Malioboro harus dibarengi dengan regulasi yang jelas dan pengawasan yang konsisten.

“Fungsi kami di Dewan adalah menyiapkan regulasi dan pengawasan. Segala hal yang menyangkut ketertiban, termasuk hal-hal kecil seperti larangan merokok di area tertentu, perlu diatur agar tidak mengganggu kenyamanan publik,” ujarnya.

Acara ini juga diwarnai masukan dari komunitas andong, becak, sepeda ontel, serta pelaku usaha dan perhotelan. Mereka mendorong penataan moda tradisional agar lebih tertib, jalur sepeda yang ramah, hingga integrasi sistem reservasi berbasis QR.

Kegiatan mendapat sponsor dari Bank BPD DIY dan Novotel Hotel. Semua pihak sepakat menjaga Malioboro dan Sumbu Filosofi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.

“Yogyakarta sudah diakui dunia. Tinggal tugas kita menjaganya melalui sinergi pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat,” tutup Kepala Bidang Pengendalian Operasional, Sumariyoto, selaku moderator acara.***


© 2026 Dinas Perhubungan D.I. Yogyakarta. All Rights Reserved.